Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Online Seller

Phadli "Adlin"

Blog EntryMar 24, '08 9:22 AM
for everyone

Being Masculine

Ketika Kelelakian Tertanam di Benak

Terranova | Hardian Eko Nurseto | Jati Mahatmaji




  • Selamat pagi lagi!” katanya

pagi ke seratus empat puluh tujuh aku bertemu dengan laki-laki yang berpeluh setelah keliling kompleks rumah sebanyak tiga kali, sungguh ekstrim. Di halaman rumah, sembari menyiram tanaman atau menyapu halaman yang penuh daun kering. Pukul sembilan ketika aku menjemur pakaian, dia muncul lagi dengan tas berisi kamera dan perlengkapannya yang sebesar Gaban. Gaban? Hmmm...Gaban? sebesar apatah itu?! Retorik.

  • Saya berangkat dulu!”

Brrrrrrrrrrrrrrruuuuuuuuuuuuuuuummmmmmmm.... naik motor trail, ia pun pergi bekerja sebagai fotografer lepas, sungguh lepas... fotonya bukan gambar model-model cewek yang lenggak-lenggok centil. Foto-foto alam, tebing, pegunungan, petualangan... melelahkan sekali pokoknya...mungkin.

Sore hari ia, katanya, latihan bela diri...hmm entah apa namanya... yang pastinya kasar dan mengerikan... semoga bukan smack-down

Dari jendela dapur pukul sembilan malam, terlihat ia bersenandung basah sehabis mandi. Idih...rambutnya yang agak panjang dan ikal, basah. Tubuhnya kurang ajar! Dapat kulihat kotak-kotak di perutnya, kurang ajar sekali! Sedang bermain-main dengan ular python peliharaanya yang luar biasa besar, berani sekali ia bermain dengan binatang buas itu... Menyalakan sebatang rokok, ia bersantai sambil berbicara lewat telepon dengan gadis-gadis gatal sejumlah belasan yang meneleponinya tiap hari... Saya kira Den Arya itu........ hmmmm tunggu, tunggu... apa namanya ya?! Eeeeeuu...ya! saya tahu, saya kira Den Arya itu... maskulin banget! Saya yakin itu!

(“Majikan yang Bertubuh Kurang Ajar “ | Entong Gendut 2007)





|Definisi Maskulin|

Itulah yang mungkin merupakan bayangan dalam benak orang-orang tentang maskulinitas. Tapi, rupanya ada hal lain di balik maskulinitas. Sebelum beranjak kepada ‘rahasia’ maskulinitas, sebaiknya kita pahami terdahulu, apa yang dimaksud dengan maskulinitas... hmmm...sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga. Terminologi maskulin sama saja dengan jika kita bicara mengenai feminin. Maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah kebudayaan. Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, antara lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja. Di antara yang dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal, kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan anak-anak (Barker, 2005:300). Dalam kehidupan sosial, dengan tradisi maskulin yang semacam ini, laki-laki dianggap gagal jika mereka tidak maskulin. Kebanyakan laki-laki ditekan untuk menjadi maskulin. Berpenampilan lemah, emosional, atau berlaku inefisien secara seksual merupakan suatu ancaman utama terhadap percaya diri mereka (diambil dari Wikipedia Free Encyclopedia). Menurut ensiklopedi Wikipedia juga, maskulinitas disebutkan sebagai “manhood” atau kelelakian. Sifat kelelakian ini berbeda-beda dalam setiap kebudayaan, ya! Maskulinitas itu sendiri dikonstruksi oleh kebudayaan. Konsep maskulinitas pada masyarakat ’barat’ biasanya berasosiasi dengan citra industrialisasi, kekuatan militer, dan peran sosial gender yang konvesional. Yang dimaksudkan dalam hal ini, misalnya, bahwa laki-laki harus kuat secara fisik, pintar, agresif secara seksual, logis, seorang yang individualistik, dan condong memimpin, serta sifat-sifat ’jantan’ lainnya. Dengan citra demikian, maka kebudayaan terus menciptakan maskulin-maskulin baru dalam keluarganya sebagai semacam prestise yang seolah-olah dimiliki secara genetis oleh laki-laki. Betulkah itu?

|Tipologi Maskulin|

Beynon (2002), becerita dengan menariknya mengenai maskulin dalam bukunya Masculinities and Culture. Dalam buku ini, Beynon menggambarkan sosok seperti apakah maskulin ini? Beynon membagi bentuk maskulin dengan ide tren perkembangan zaman, sebagai berikut :

  1. Maskulin sebelum tahun 1980-an

Sosok maskulin yang muncul adalah pada figur-figur laki-laki kelas pekerja dengan bentuk tubuh mereka dan perilaku mereka sebagai dominator, terutama atas perempuan. Citra laki-laki semacam ini memang kental dengan awal industrialisasi pada masa itu, laki-laki bekerja di pabrik sebagai buruh berlengan baja. Mereka terlihat sangat ‘bapak’, sebagai pengusa dalam keluarga dan sosok yang mampu memimpin perempuan serta pembuat keputusan utama. Nah, inilah yang dimaksud dengan maskulin yang tradisional, menurut pandangan ‘barat’. Menurut tulisan Levine (1998:145) yang diambil dari Ensiklopedi Wikipedia, yang (juga) mengutip tulisan dari dua orang ilmuwan sosial Deborah David dan Robert Brannon (1976), terdapat empat aturan yang memperkokoh sifat maskulinitas, yaitu :

    • No Sissy Stuff : sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau feminin dilarang, seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang berasosiasi dengan perempuan.

    • Be a Big Wheel : Maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasan, dan pengaguman dari orang lain. Seseorang harus mempunyai kekayaan, ketenaran, dan status yang sangat lelaki.

    • Be a Sturdy Oak : kelelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.

    • Give ‘em Hell : Laki-laki harus mempunyai aura keberanian dan agresi, serta harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.

Dalam ketradisionalitasan yang dikembangkan oleh kebudayaan Jawa juga kurang lebih sama, salah satunya mirip dengan poin kedua bahwa laki-laki must be a big wheel. Seorang laki-laki dikatakan sukses jika berhasil memiliki “garwo” (istri), “bondo” (harta), “turonggo” (kendaraan), “kukilo” (burung peliharaan), dan “pusoko” (senjata atau kesaktian) (Darwin, 2005:23-24).

  1. Maskulin tahun 1980-an

Kemudian sosok maskulin berkembang pada tahun 1980-an dengan cara yang berbeda. Maskulin bukanlah laki-laki yang berbau woodspice lagi, maskulin adalah sosok laki-laki sebagai “new man”. Beynon menunjukkan dua buah konsep maskulinitas pada dekade 80an itu dengan anggapan-anggapan bahwa “new man as nurturer” dan “new man as narcissist”. New man as nurturer konon merupakan gelombang awal reaksi laki-laki terhadap feminisme. Laki-laki pun menjalani “sifat alamiahnya” seperti perempuan sebagai makhluk yang mempunyai rasa perhatian. Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya, untuk mengurus anak. Keinginan mereka untuk menyokong gerakan perempuan juga melibatkan peran penuh mereka dlam arena domestik. Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah, berpendidikan baik, dan intelek (Beynon, 2002:100). Anggapan kedua adalah bahwa new man as narcissist- hal ini berkaitan dengan komersialisme terhadap maskulinitas dan konsumerisme semanjak akhir Perang Dunia II. Mereka adalah anak-anak dari generasi zaman hippies (tahun 60an) yang tertarik pada pakaian dan musik pop. Banyak produk-produk komersil untuk laki-laki yang bermunculan, bahkan laki-laki sebagai objek seksual menjadi bisnis yang amat luar biasa. Di sini, laki-laki menunjukkan maskulinitas mereka dengan gaya hidup “yuppies” yang flamboyan dan perlente. Laki-laki semakin suka memanjakan dirinya dengan produk-produk komersial yang membuat mereka “tampak sukses”. Properti, mobil, pakaian atau artefak personal merupakan wujud dominan dalam gaya hidup ini. Kaum maskulin yuppies ini dapat dilihat dari penampilannya berpakaian, juga Porsche mereka. Kaum yuppies menganggap laki-laki pekerja industri yang loyal dan berdedikasi sebagai sosok yang ketinggalan zaman dalam pengoprasian modal (Beynon, 2002:107).

  1. Maskulin tahun 1990-an

Kemudian muncul juga sosok yang disebut maskulin dalam dekade tahun 1990an. Laki-laki kembali bersifat tidak peduli lagi terhadap “remeh-temeh” seperti kaum maskulin yuppies di tahun 80an. The new lad ini berasal musik pop dan football yang mengarah kepada sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hooliganism. Mereka kemudian menyatakan dirinya dalam label konsumerisme dalam bentuk yang lebih “macho”, seperti membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola dan dunia minum-minum, juga sex dan hubungan dengan para perempuan. Pada dekade 1990an ini kaum laki-laki masih mementingkan leisure time mereka sebagai masa untuk bersenang-senang, mereka menikmati hidup bebas seperti apa adanya. Mereka hidup bersama teman-teman mereka, bersenang-senang, menyumpah, menonton sepak bola, minum bir, dan membuat lelucon-lelucon yang dianggap merendahkan perempuan. Hubungan-hubungan mereka dengan perempuan pun terbatas dalam hubungan yang bersifat kesenangan semata. Kebebasan mereka menjauhkan dari hubungan yang bersifat domestik yang membutuhkan loyalitas dan dedikasi.


Di luar perkembangan maskulin yang dikemukakan oleh John Beynon, kita juga perlu amati, bagaimanakan maskulinitas pasca 1990-an yang hooligan? Bagaimana maskulin pada tahun 2000-an, mengingat tahun 2000-an sudah nyaris mendekati satu dekade. Apa yang terjadi dengan laki-laki sekarang ini? Apakah ada gejala yang khas? Semakin lama gejala kelelakian semakin penuh dengan terminologi-terminologi baru. Homoseksual yang sudah berkembang semenjak dekade 80-an, sekarang bahkan terminologi laki-laki sudah mengenal istilah “metroseksual”. Dalam artikel “Pria Metroseksual : Eksis di jalur Maskulin” dalam harian Pikiran Rakyat - laki-laki metroseksual adalah laki—laki yang berasal dari kalangan menengah atas, mereka rajin berdandan, dan juga tergabung dalam komunitas yang terpandang dalam masyarakat. Mereka semacam socialite (orang-orang yang senang gaul bergengsi). Mereka pada umumnya harus berpengetahuan luas, atau merka yang disebut dengan laki-laki yang “berbudaya”. Laki-laki metroseksual mengagungkan fashion, mungkin mirip dengan tipe maskulin yang ada di tahun 1980an, bahkan mungkinj sama. Mereka adalah orang-orang yang peduli dengan gaya hidup yang teratur, menyukai detail, dan cenderung perfeksionis. Mereka berbeda dengan banci atau laki-laki normal, tapi sama saja laki-laki. Metroseksual lebih condong kepada pilihan akan identitas kelelakian, terutama karena tuntutan bahwa laki-laki metroseksual biasanya berada dalam kelas ekonomi menengah ke atas yang mampu menghiraukan ‘remeh-temeh’ gaya hidup mereka. Jadi, apakah tipe maskulin laki-laki tahun 2000an adalah yang semacam ini, metroseksual? Kemudian berkembang lagi, bahwa periode-periode maskulinitas yang disebutkan sebelumnya merupakan sebauah tipe maskulin yang nyata?


|Riset Maskulinitas|

Masih dalam Beynon (2002), meneliti maskulinitas dapat dilakukan melalui berbagai hal, terutama media. Media apa saja yang dapat digunakan untuk mempelajari maskulinitas ini? Adalah sebagai berikut :

#

Media

Sumber

Penjelasan

1

Karya Sastra

novel, puisi, kajian-kajian Sejarah, tulisan-tulisan mengenai Travel and Sport.

Melalui karya sastra seperti “Anthony and Cleopatra” karangan William Shakespeare ~ memperlihatkan bentuk maskulinitas. Caesar dengan sifat yang begitu laki-laki dengan Cleopatra sebagai perempuan yang feminin, ditunjukkan denga jelas dan kontras antara maskulin dan feminin tradisional.

2

Media Cetak

Tabloid, Koran, Majalah, Komik.

Melalui media ini, maskulinitas ditunjukkan, terutama dalam perkembangannya di tahun 1980an ketika pers banyak gembar-gembor mengenai kebutuhan para maskulin ini. Komik, untuk anak-anak dan remaja, juga merupakan media untuk mengeksplorasi maskulinitas secara naratif denagn efek visual. Karakter-karakter laki-laki yang muncul menjadikan laki-laki dominan.

3

Media Siar

film, televisi, video, internet, radio.

Muncul berbagai paradoks mengenai maskulinitas. Film “Saving Private Ryan” (1998) menunjukkan maskulinitas yang luar biasa dalam peperangan. Namun, film ini memunculkan juga pertanyaan mengenai maskulinitas kekinian sseperti dalam film “Fight Club” dan “American Beauty” pada tahun 1999 yang tidak hanya memperlihatkan kekuatan otot laki-laki, melainkan juga unsur emosional laki-laki seperti yang terlihat pada maskulinitas tahun 1980an.

4

Media Visual dan Performatif

Lukisan, Patung, Periklanan, Fotografi, Kartun, Ilustrasi, Olahraga, tarian, Musik Pop, Upacara, Ritual, Pertunjukkan, Penampilan, dan Pidato (Orasi).

Tubuh laki-laki merupakan sebuah kendaraan penuh makna. Melalui visual, tubuh laki-laki ditunjukkan melalui fisik dan pakaiannya (dalam gambar, iklan, seni patung, fotografi). Dengan unsur performatif ini, maskulinitas ditunjukkan melalui bahasa tubuh dalam berbagai macam latar yang luas, misalnya konser musik, pertunjukan drama, dan acara-acara olahraga.

5

Autobiografi/Biografi dan Dokumentasi

Sejarah Lisan, Kisah Hidup, Biografi, Autobiografi, Buku Harian, Jurnal, Arsip, Rekaman Audiovisual.

Mode dokumenter menunjukkan apa yang disebut sebagai autobiografi yang menunjukkan sebuah pengalaman hidup maskulin dan subjektivitas laki-laki, pada masa kini dan masa lampau. Contohnya adalah penceritaan sejarah lisan tentang pertambangan di South Wales tahun 1970 oleh Tosh (2000) yang mendeskripsikan kehidupan merea di barak tempat bekerja para laki-laki tersebut. Biografi dan autobiografi adalah salah satu media untuk mengkonstruksikan sebuah kekuatan identitas maskulinitas yang positif.

6

Etnografi

Observasi Berdasarkan Catatan Lapangan, Wawancara, Rekaman Audiovisual.

McElhinny (1994) (dalam Beynon, 2002) menunjukkan apa yang dia sebut dengan “ ethnographic moments” terhadap gejala-gejala yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Etnografi memberikan potensi untuk mempelajari maskulinitas yang terdapat di berbagai latar belakang kebudayaan.



|Maskulinitas?|

Jika kita teruskan perbincangan mengenai maskulinitas ini, apakah maskulinitas itu benar-benar ada? Berulang kali disebutkan, maskulinitas hanyalah sebuah konstruksi yang dibuat oleh kebudayaan untuk mengarahkan masyarakat untuk menjadi seusatu yang dimiliki masyarakat, dapat diperlakukan sesuai kemauan masyarakat itu sendiri. Melihat adanya perkembangan maskulinitas, kita perlu mempertanyakan juga kebenarannya. Seperti misalnya, maskulinitas pada dekade 1980, apakah benar-benar sebagai reaksi terhadap feminisme, apakah merupakan suatu empati laki-laki terhadap kaum perempuan? Jika hal tersebut merupakan empati kelompok maskulin ini, namun mengapa perkembangannya berlangsung sebaliknya, sedangkan feminisme terus berjalan. Mengapa laki-laki jadi berbalik kurang menghargai perempuan, berlawana dengan sikap feminisme? Lalu bagaimana dengan kondisi maskulinitas saat ini (tahun 2000an)? Apakah sekarang terdapat ciri khusus terhadap maskulinitas? Melihat kenyataan semacam ini, bentuk-bentuk maskulinitas bisa jadi merupakan suatu tren belaka. Perkembangan dengan segala gagasan-gagasan itu mungkin semata-mata sebagai suatu hal yang disukai oleh masyarakat saja.

Yang juga perlu dipikirkan, bagaimana sebetulnya tanggapan laki-laki terhadap konstruksi yang dituntut oleh masyarakat untuk terus menjadi laki-laki itu? Dengan tuntutan untuk menajdi maskulin tersebut, rupanya banyak imbas yang akhirnya harus dialami oleh laki-laki. Banyak tekanan adatu depresi yang dialami laki-laki untuk tuntutan-tuntutan semacam ini. Beberapa kajian psikoterapi (McLean et al., 1996; Real, 1998 ; Rowe, 1988, 1997 – diambil dari Barker (2005:301)) menunjukkan banyak sikap bermasalah pada lelaki berakar pada rasa rendah diri, yang disebabkan oleh kehidupan keluarga dan tuntutan budaya dalam hal maskulinitas; terutama menyangkut perasaan bahwa, menurut mereka sendiri, bahwa laki-laki kuranag aberhasil menjadi maskulin, bahwa mereka gagal memenuhi tuntutan sosial dalam hal menjadi laki-laki. Kecenderungn ini mungkin akan semakin menguat dalam konteks dunia pascaindustri, di mana pekerjaan-pekerjaan tradisional yang “keras” khas lelaki seperti di industri baja semakin sedikit tanpa ada gantinya bagi para pemuda.

Jadi, bagaimana maskulinitas itu dibentuk oleh kebudayaan adalah melalui proses panjang mengenai wacana “kelelakian” dan “keperempuanan” yang berjalan bersama. Dalam satu sisi maskulinitas memeprkokoh laki-laki dalam stereotipenya sebagai dominator, namun ternyata terdapat banyak imbas-imbas negatif yang juga mempersulit kaum laki-laki. Bagaimanapun, kita hidup di masyarakat. Masyarakat adalah “tuhan” kita.






Sumber :

  • Barker, Chris . 2005 . Cultural Studies : Teori dan Praktik . Yogyakarta : Bentang

  • Beynon, John .2002. Masculinities and Culture. Philadelphia : Open University Press

  • Darwin, Muhadjir M. .2005. Negara dan Perempuan : Reorientasi Kebijakan Publik. Yogyakarta : Penerbit Media Wacana

  • Masculinity : Wikipedia Free Encyclopedia

  • Artikel “Pria Metroseksual : Eksis di jalur Maskulin”, harian Pikiran Rakyat



permenungan wrote on Mar 24, '08
coba ditelusuri lagi pada persoalan asal-usul peradaban dan gender.
setalah itu jangan dilupakan juga konsep esoteris atau perenialistik soal konsenpsional feminin dan maskulin.
nanti, analisanya juga tidak soal pada konstruksi sosial semata, dan juga bisa melihat perkembangannya sejak kali awal peradaban muncul.
phadli23 wrote on Mar 24, '08
ulasan ini dikaji secara antropologi. karena basic ilmu kami antropologi. kalo dikaji dengan bahasan anda terlalu rumit. kami tidak menguasai. bahasa maskulin dan feminin itu pembentukan secara sosial..... kalo dikaji sedari peradaban muncul, luas banget... kajian kita hanya secarik kertas dicoret pena doang...
phadli23 wrote on Apr 16, '08
sebuah tulisan... hehehe
phadli23 wrote on Jun 29, '08
buka mata, iklan itu perusak pikiran anda
Add a Comment